Stasiun Merak: Dari Merak Jaya Sampai Nyebrang Laut (Part 1)

Stasiun Merak. Foto: Egi Mardani
Stasiun Tenjo - Rekan-rekan pasti tahu stasiun satu ini. Stasiun Merak. Stasiun yang terletak di ujung barat pulau Jawa ini memang punya cerita sendiri. Mulai dari cerita lokomotif nyemplung ke laut hingga kapal feri yang menghubukan dua stasiun beda pulau. Semua cerita mengenai kejayaan kereta api zaman tersebut tetu masih lekang di ingatan beberapa orang. Dan saya akan mencoba membahas sejarah stasiun Merak disini. Ya walaupun tidak lengkap, tapi setidaknya bisa memuaskan rasa ingin tahu kita akan stasiun megah penuh kenangan ini. Akhir kata, selamat membaca!

Merak Jaya
Membahas stasiun Merak tentu tidak bisa dilepaskan dari kereta yang satu ini. Merak Jaya seolah sudah menjadi ikon dari stasiun Merak. Bahkan jika diperhatikan, masih bisa ditemui beberapa penumpang lansia di lintas kulon yang menyebut Patas Merak sebagai Merak Jaya atau Banten Ekspres. Keduanya memang sama fenomenalnya. Khusus untuk Merak Jaya, hal tersebut sudah tentu tidak dapat dilepaskan dari predikatnya sebagai satu-satunya kereta kelas satu pada masa itu yang melayani rute Merak-Jakarta. Kereta Api Merak Jaya awalnya merupakan campuran kelas eksekutif dan kelas bisnis.  Stamformasi mewah ini dilengkapi dengan kehadiran lokomotif tangguh BB304 yang selalu menjadi langganan penarik Merak Jaya. Kombinasi ini pun semakin menggiurkan tatkala sejak diresmikan pada 1 Nopember 1996, sang ular besi mampu melibas rute Jakarta-Merak di kisaran 2,5 jam. 

Merak Jaya. Foto: Mohamad Lutfi Tjahjadi 
Seiring berjalanya waktu, sang maestro tanah jawara itu hanya membawa kereta kelas bisnis saja. Sebelum akhirnya dihapus pada 1 Juni 2006 karena okupansi penumpang dibawah 60%.

Kereta Jawa-Sumatera

Mungkin tidak terpikirkan jika ada kereta dari pulau Jawa ke pulau Sumatera. Mau lewat mana? Jembatanya memang sudah jadi? Dan lain sebagainya. Namun tahukah pembaca blog Stasiun Tenjo, kalau sebenarnya dahulu pernah ada kereta dari Jawa ke Sumatera? Ya, anda tidak salah baca.

Jadi begini ceritanya, dahulu ada layanan kapal feri yang menghubnugkan stasiun Merak ke stasiun Teluk Betung di Lampung sana. Kapal feri tersebut masih termasuk jasa layanan kereta api. Layanan ini tidak menghubungkan pelabuhan Merak dengan pelabuhan Bakauheni seperti sekarang, melainkan ke pelabuhan Teluk Betung yang terletak tidak jauh dari stasiun Teluk Betung.

Stasiun tujuan para penumpang dari Merak ini letaknya di daerah Gudang Garam, tepatnya di dekat Pelabuhan Cungkeng. Saat ini, bekas bangunan stasiun itu berada tepat belakang gudang asbes. Hingga akhirnya banyak orang menyebut daerah itu dengan sebutan Teksas (Telukbetung Stasiun) hingga saat ini. Menurut penuturan pak Hasanudin, salah seorang tetua yang ditemui di Pelabuhan Cungkeng, Stasiun Telukbetung terakhir digunakan sekitar tahun 1967. Dulunya, sebelum tahun 1967, rel keretanya memanjang hingga daerah Muara, Panjang, lalu berbelok di Garuntang untuk menuju ke Stasiun Tanjungkarang. Sementara rel lainnya memanjang hingga Pelabuhan Panjang, kala itu.

Namun seiring berjalanya waktu, kapal feri ini pun tidak beroperasi lagi. Hasilnya, saat ini secuil sisa bangunan stasiun atau relnya sudah tidak nampak lagi. Hanya kisah kenangan para tetua di sana yang masih bisa dinikmati. Padahal, koon katanya Stasiun Telukbetung ini menjadi stasiun pertama yang menghantarkan para transmigran pertama dari Pulau Jawa yang tiba di Pelabuhan Cungkeng Telukbetung sebelum menuju Stasiun Tanjungkarang untuk kemudian dibawa ke Desa Bagelen, Gedong Tataan.

Artikel Lainya:

No comments:

Post a Comment

Sampaikan komentar anda disini. No SARA & Rasis. Terimakasih