Siang ini sama seperti siang sebelumnya. Awan putih yang sedari tadi menghiasi langit, perlahan mulai berarak perlahan meninggalkan sang mentari sendirian. Masing-masing pergi menghilang hingga tak ada lagi yg tersisa satupun di langit. Seolah membiarkan sang mentari menyengat penduduk kota dengan teriknya.
Namun warga kota nampak tidak mempedulikan teriknya sinar matahari. Masing-masing sibuk dengan urusanya sendiri.
Sementara itu di sisi lain kota, di stasiun Wijen, tampak seorang pemuda tengah asyik berteduh di ruang tunggu. Pemuda kurus itu bernama Nathan. Ia juru langsir di gudang logistik kereta api
Pekerjaanya memang tidak terlalu berat, ia hanya bertugas melangsir gerbong-gerbong dari stasiun ke dalam gudang untuk diisi, kemudian membawanya kembali ke stasiun untuk dirangkaikan dgn rangkaian KA reguler.
Tugasnya baru terasa berat jika lokomotif tua yg biasa ia pakai untuk melangsir mengalami gangguan. Ia harus menunggu kedatangan lokomotif pengganti dari dipo selama berjam-jam. Hal tersebut dikarenakan jauhnya jarak dipo dengan stasiun. Namun beruntung hari ini "simbah", demikian julukan lokomotif tua tersebut, sedang tidak 'ngambek', sehingga ia punya banyak waktu luang


