Apel Busuk, Part 6



--Priscila's POV--

Panitia lalu menggelar undian untuk memutuskan di grup mana Indonesia akan masuk. Dan hasilnya adalah, Indonesia bergabung dalam grup A untuk kelompok putra, dan grup X untuk kelompok putri.

Usai dibagikan ID card, anggota tim inti pun berpencar menuju ruangan masing-masing. Priscila bersama dua orang temanya, Lina dan Rany bergegas menuju ruangan 2B. Mereka bertiga adalah perwakilan untuk cabang "Astronomi dan Astrofisika".

Di dalam ruangan, para peserta tampak sibuk mengerjakan soal teoritis. Sementara beberapa pria berjubah hitam tampak berkeliling mengawasi. Priscila dan kedua temanya kemudian dipersilahkan duduk dan mengerjakan soal teori setebal 100 halaman secara berkelompok.

--Nathan's POV--

Nathan masih menunggu Naya dengan sabar. Namun ketika hari mulai gelap, kesabaranya mulai habis. Ia segera beranjak dari situ.

"Hei" cegah seseorang dibelakangnya ketika dia baru melangkah.

Nathan menoleh kebelakang.

"Naya!" serunya.


"Lu dari mana aja? Gue nungguin lu tau gak. 12 jam. 12 jam!" cerocos Nathan sedikit emosi dan terlalu lebay. Karena sebenarnya ia hanya menunggu dua jam kurang sepuluh menit.

"Ng.. gue dari kampus" jawab Naya terbata.

"Tapi kata pembokat lu. Lu ada dalam, dan.. dan"

Nathan tidak meneruskan kalimatnya. Dia baru ingat kalau pembantunya Naya memang sedikit ada gangguan kejiwaan.

"Lagian lu kenapa gak sms kek, nelpon kek kalo mau ketemuan" ucap Naya membela diri.

"Ng.."

Nathan hanya terdiam. Dia tidak mungkin jujur, kalo dia tidak punya pulsa. Bisa hancur reputasi dunia persilatan.

"Selama ini, lu darimana?" tanya Naya kemudian.

"Dari stasiun.."

"Bukan. Maksud gue lu ngilang tiga hari kemana?" ulang Naya memperjelas.

"Gue diculik pulisi, diintegorasi" jawab Nathan cepat.

"Oh" gumam Naya manggut-manggut.

"Priscila dimana?" tanya Nathan.

"Lu emang gak tau?" Naya balik bertanya.

"Iya gue tau dia ke London. Tapi ngapain?"

"Ikutan Olimpiade Sains"

"Oh"

Nathan jadi ingat, kalo Priscila memang punya kecerdasan diatas rata-rata. Dia selalu juara 1 sejak SD sampai SMP. Berbeda dengan Nathan yang "pencapaian terbaiknya" adalah rangking 13 dari 30 siswa waktu kelas 3 SD.

"Kapan pulang?"

"Tahun depan"

"Hah! Tahun depan?" seru Nathan kaget.

"Kenapa? Lu kangen ye?" ejek Naya.

"Eh, ah.. kagak" elak Nathan gelagapan. Padahal dia sudah panik setengah mampus. Tidak bertemu selama dia menghilang saja sudah membuat rindu membuncah di dada. Apalagi satu tahun! Jangan-jangan dia bakal menikah dengan bule ganteng disana.

"Oh.. terus lu ngapain nanyain ke gue kalo gak kangen?" tuding Naya.

"Eh, ng.. anu"

"Kalo kangen lu skype-an aja" ujar Naya menyarankan.

Skype, ulang Nathan dalam hati.

Sejam kemudian Nathan sudah berada di stasiun. Dia akan berdinas KLB AL/999.

Hap,

Nathan melompat masuk ke kabin simbah. Kemudian menjalankanya perlahan ke jalur tiga untuk mengambil K1 milik KA Ceribon ekspres yang ditinggal karena gangguan listrik.

K1 tersebut lalu dirangkai ke lok oleh pak Ujang yang merangkap sebagai PLKA. Nathan menggerakkan handle pelayanan udara tekan untuk uji coba rem. Setelah itu, Joko memberikan kertas LHM, salinan LAPKA dan juga tabel KA serta T200 kepada Nathan. Selanjutnya tepat pukul 01.00, KLB AL/999 pun siap diberangkatkan. Terlambat satu jam dari jadwal. Hal yang lumrah di jagat persepuran Nusantara.

"Toett.."

S35 simbah berbunyi nyaring membalas S40/41 yg diberikan. Menggema di seluruh penjuru stasiun Wijen untuk yang terakhir kalinya.

Simbah bergerak perlahan meninggalkan tempatnya mengabdi selama puluhan tahun. Mesin lokomotif tua itu bergemuruh memecah keheningan malam. Menembus ruang dan waktu dengan sisa-sisa tenaga yg dimilikinya.

Ketika melewati PJL 1130, Nathan melihat segerombolan railfans yang rela bergadang mengabadikan detik terakhir simbah di lintas. Nathan membunyikan S35 dan melambaikan tangan kearah mereka.

Usai melintas langsung halte non-aktif Kapur. Nathan kembali menaikkan throttle. Kali ini mencoba mengerahkan kemampuan terbaik simbah untuk mengejar keterlambatan. Namun layar penunjuk kecepatan tidak juga berubah. Tetap menunjukkan angka 40. Jauh dibawah taspat lintas, 80 km/jam.

200 meter kemudian, Nathan samar-samar melihat dua papan putih berjajar. Semboyan 8 stasiun Kemiri. Ia melirik jam tanganya. Sudah jam 02.30. Itu berarti dia terlambat satu jam setengah dari jadwal.

KLB AL/999 masuk jalur 3 stasiun Kemiri. Menunggu disusul KA 116 Senja Utama Solo yang juga terlambat. Pukul 02.50, KLB AL/999 kembali diberangkatkan.

Memasuki stasiun Gaplok, jam sudah menunjukkan pukul 03.10. KLB AL/999 berhenti di jalur 2. Di jalur 3 tampak lori JJ. Keduanya menunggu bersilang dengan KA BBM. Usai bersilang, lori JJ berangkat terlebih dahulu. Menyusul KLB AL/999 dibelakangnya.

Pukul 03.50, KLB AL/999 memasuki stasiun besar Capung. Sinyal masuk memperlihatkan semboyan malam tidak aman. Nathan menghentikan kereta apinya dan membunyikan semboyan 35 berulangkali sampai emosi. Melihat pemberian semboyan itu tidak berhasil, terpaksa ia harus berjalan kaki pergi ke stasiun. Ternyata KS Capung tengah tertidur pulas. Nathan segera membangunkanya. Dengan setengah sadar, KS memberi izin berangkat. Nathan kembali ke kereta apinya dan meneruskan perjalanan.

Akhirnya setelah menempuh 107 km perjalanan, KLB AL/999 tiba di stasiun Sidopoto pukul 07.51. Benar-benar telat parah dari jadwal yang seharusnya pukul 04.54.

Setibanya di stasiun Sidopoto, Nathan menuju ruangan PAP untuk melapor. Sementara simbah dilangsir kedalam dipo oleh salah seorang kru KUPT Sidopoto.

"Misi" ucap Nathan sambil mengetuk pintu ruangan PAP.

"Ya, masuk" sahut dari dalam.

"Saya masinis KLB kirim lok pak" lapor Nathan sambil menyerahkan dokumen perjalanan kepada seorang bapak yang dari atributnya pastilah PAP Sidopoto.

"Oh, silahkan duduk" ucap bapak itu ramah.

Nathan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia sangat kelelahan.

"Jadi mas sendiri?" tanya bapak itu kemudian.

"Iya pak" jawab Nathan sambil menguap menahan kantuk.

"Tanpa asisten masinis? Hebat.." gumam bapak itu keheranan.

Kampret, hebat apanya, caci Nathan dalam hati.

--Priscila's POV--

Sekitar pukul 18.00, perlombaan hari pertama usai. Tim merah putih menyelesaikanya dengan baik. Mereka pulang ke hotel dengan riang gembira.

Hasil yang dirilis menunjukkan baik tim putra maupun tim putri berhasil melewati batas 3000 poin yang ditentukan panitia untuk lolos ke fase gugur. Tim putra meraih 3250 poin sementara tim putri 3600 poin.

"Benar-benar sempurna" puji Mendikbud dengan kumis lebat menawanya saat tele-conference.

Tim selanjutnya diberikan sesi bebas oleh guru pembimbing. Setelah mandi, Priscila meminjam laptop bu Eka untuk skype-ing dengan keluarganya. Ia sudah janjian dengan kakaknya kemarin sore.

"Ka Erinn.." jerit Priscila begitu panggilan tersambung.

"Priscilaa! Gue kangen banget!" jerit kakaknya tak kalah keras.

"Ada mama papa gak?" tanya Priscila.

"Ada, bentar ya" sahut Erin.

Tak lama kemudian, Erin datang membawa papa dan mama mereka.

"Pa, ma apa kabar?" tanya Priscila dengan suara bergetar menahan tangis.

"Baik. Kamu apa kabar?" tanya mama dan papanya bersemangat.

Mereka kemudian mengobrol panjang lebar. Priscila menceritakan pengalamanya selama di Inggris. Termasuk ketika bertemu Niall Conan, idolanya.

--Nathan's POV--

Nathan berjalan menuju griya karya dengan langkah terseok. Dia benar-benar kelelahan. Sudah lama dia tidak dines jarak jauh. Dulu dia memang pernah jadi asisten masinis KA jarak jauh selama setengah tahun sebelum akhirnya dimutasi jadi juru langsir. Penyebab dirinya dimutasi cukup serius. Yaitu, gara-gara ketahuan ngencingin kuburan korban kelindes kereta di belakang gudang logistik. Sebenarnya dia tidak sadar kalau itu kuburan. Maklum saja waktu itu dia tengah terkantuk-kantuk sehabis bermain Gaple dengan teman-temanya.

"Mas, mas" seru seseorang dari belakang.

Nathan menoleh, tampak seorang pria berseragam R6 berlari kearahnya. Umurnya mungkin dua atau empat tahun lebih tua darinya.

Apa lagi, rutuk Nathan.

"Mas, mas, Nathan ya?" tanya lelaki berseragam R6 itu menghampiri.

"Iya" sahut Nathan malas.

"Ntar malam dines bareng saya mas" ujarnya sambil menyerahkan salinan dinasan masinis.

"Wadefak!?"

"Saya tunggu di dipo ya" ucap lelaki itu seraya berlalu.

Nathan membolak-balik salinan itu. Disitu tertulis namanya sebagai asisten masinis KA 480/377 Lokalan Manis Merah.

Kampret, maki Nathan jengkel. Tiba-tiba rasa kantuknya jadi hilang dibuat kertas itu. Dia langsung berbalik ke ruangan KS untuk memprotes kebijakan tersebut.

"Saya kan di teleks cuma disuruh nganter lok, baru pulangnya LD" protes Nathan kepada KS Sidopoto diruanganya.

"Iya.. Tapi kami kekurangan masinis. Tiga orang memasuki masa pensiun, sementara dua lagi cuti" jabar pria tua yang menjabat sebagai kepala stasiun itu dengan tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi persoalan semacam ini. Jam terbangnya di dunia perkeretapian sudah tinggi.

"Sementara kamu asistensi dulu" ujar pria tua itu lagi.

"Saya kan juru langsir. Bukan masinis!" teriak Nathan sambil menunjukan kartu pegawainya. Disitu tertera jelas jabatanya sebagai juru langsir.

"Sudah, sudah" ucap wakil kepala stasiun menengahi.

"Kamu tenang saja. Nanti ada G43nya" rayu KS Sidopoto dengan menaikkan alis sebelahnya.

"Lagipula, ini perintah dari Kasi Opsar" timpal wakil kepala stasiun.

--Priscila's POV--

Keesokan harinya, tim merah putih diajak berjalan-jalan mengelilingi kota Manchester menggunakan bus. Tim putra mengunjungi stadion Old Trafford, 'tanah suci' nya para Mancunian, sementara tim putri berkeliling Albert Square yang dipenuhi patung-patung bersejarah.

Karena lelah berkeliling, Priscila memutuskan beristirahat di sebuah kafe. Namun sayangnya seluruh bangku sudah terisi penuh, hanya menyisakan satu kursi kosong di pojokan.

"Excuse me. May i sit here, the seats are full" ucap Priscila sopan.

"Of course" sahut lelaki itu.

"Wait. Didn't we have meet before?" tanya lelaki itu setelah Priscila duduk.

Priscila tertegun. Sepertinya dia memang mengenal laki-laki ini dan pernah bertemu sebelumnya. Laki-laki tersebut juga nampak sedang berfikir. Dia kemudian melepas topi dan kacamatanya.

"Niall!" jerit Priscila kegirangan begitu menyadari sosok dihadapanya.

“Niall, i never guess that we would meet again” ucap Priscila.

“So do I” sahut Niall.

“Do you know? I stay up all night just wait you to add my skype” ujar Priscila.

“Sorry for that. I lost your skype. I drank a water ice and it erased from my hand. I’m sorry” jelas Niall.

“Oh”

“Anyway, what’s your name?” tanya Niall.

“Priscila”

“Beauty name like the person” puji Niall.

“Gombal. Hahaha” tawa Priscila.

“What?”

“Nope”

“You’re not european or american” ucap Niall.

“Yeah, right. I’m Indonesian” sahut Priscila.

"So, why are you here in England?" tanya Niall.

"I am Science Olympic's contestant" sahut Priscila sambil menunjukan kartu pengenal yang melekat di dadanya.

"Woah, great! Clever gals!" seru Niall.

Priscila hanya tersenyum malu.

"Where’s your phone?” tanya Niall kemudian.

Priscila mengambil ponselnya didalam tasnya.

“Here, for what?”

Tanpa menjawab, Niall merebut ponsel ditangan Priscila.

“What are you doing?” tanya Priscila.

“Cil, i’ve just met you and this is crazy but here’s my number so call me maybe” Niall bernyanyi sambil menunjukan nomor ponselnya yang tertera di ponsel Priscila.

Priscila tertawa.

“Niall, i’ve just met you and this is crazy, you give your number, i call you maybe” Priscila balas bernyanyi.

Niall dan Priscila tertawa lepas tanpa memerdulikan sekeliling mereka yang dari tadi memerhatikan tingkah mereka berdua.

“What's the time now?" tanya Niall kemudian.

Priscila melirik jam tanganya.

"Nine o'clock"

"I must go. You should call me, ok?” ucap Niall sambil bangkit berdiri.

“Okay, Nialler. Bye” balas Priscila.

"Oh, wait” seru Niall sebelum beranjak.

"What?" tanya Priscila.

Tiba-tiba Niall memeluk Priscila selama beberapa detik. Priscila merasa gugup sekali, ia hanya tersenyum pada Niall.

Niall balas tersenyum. Kemudian beranjak pergi seraya melambaikan tangan pada Priscila.

“Call or text me” seru Niall dari kejauhan

--Nathan's POV--

Nathan bangkit dari tidurnya. Sudah jam 2 siang rupanya. Ia beringsut turun dari ranjangnya lalu menuju warteg untuk makan. Dari tadi pagi ia belum makan. Habis dari ruangan KS Sidopoto ia langsung tidur.

Begitu datang, dia langsung disambut yang punya warteg.

"Silahkan duduk mas. Mau apa?"

"Ya mau makan, masa mau keramas" sahut Nathan.

Mbak itu tertawa.

"Kikil kebo sama sayur pare aja deh mbak. Minumnya es jeruk" pesan Nathan kemudian.

Ia mengambil tempat duduk di pojokan. Tak lama kemudian pesananya pun datang.

Tiba-tiba datanglah seorang bapak dengan wajah yang agak ketus memesan makanan pada pelayan.

"Mbak ada apa aja menunya nih?"

"Wah banyak pak.. Anjing bakar, babi goreng, kecoak guling. Bisa dilihat didaftar menunya pak.." jawab mbak itu dengan ramah.

"Ah, trus mana yang spesial?!"

"Semua spesial kok pak. Gimana kalo ayam bakar saos jawa?"

"Huh.. Saya gak yakin deh warung makan kayak gini ayamnya bebas formalin!"

"Kalo gitu bebek goreng kecap pedas?"

"Bebek? Wah bisa kambuh darah tinggiku! Pedas lagi! Yang laen dah.."

"Em.. Gimana kalo iga sapi bumbu pecel? Yang ini spesial pak.. Pasti bapak suka.."

"Hah sapinya glonggongan gak? Gak mau ah.. Yang laen!"

Semua menu ditawarkan si mbak, tapi berbagai alasan yang kurang sopan sang bapak untuk menolak menu yang ditawarkan itu. Sampe menu terakhir, si mbak dengan senyum terpaksa menawarkan.

"Ini menu yg tersisa pak.. Gimana kalo lele goreng sambal bangkok pak?"

"Wah kalau itu sambalnya sih suka tapi lelenya itu lho. Hih, pokoknya saya gak suka makan lele!" serunya dengan kesal sambil meninggalkan warteg.

"Hih, lelenya juga gak suka dimakan bapak!!" balas si mbak sambil nyiram air panas.

--Priscila's POV--

Priscila kemudian dihampiri teman-temanya. Mereka bergegas kembali ke hotel untuk berkemas. Hari kedua perlombaan adalah di kota Norwich.

Usai berkemas mereka check-out dan segera menuju terminal bis Jan-cook (baca Jancuk -red). Berhubung tiket bus rata-rata fully booked. Tim merah putih akan menumpang bis secara terpisah. Priscila kebagian tiket bersama lima orang anak lelaki tim putra. Mereka menumpang bis cepat Gajah Mungkur trayek Manchester-Pasar Norwich via tol Cidodol.

Selama di perjalanan, Priscila memilih tidur beristirahat. Sedangkan teman-temanya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang motretin penumpang satu persatu, ngitungin tiang listrik yang ada dipinggir jalan, bahkan tunjuk-tunjuk rumah yang ada dikiri kanan.

Kemudian kelima anak lelaki tim putra itu jalan bolak-balik dari bagian depan ke bagian belakang bis selama 1 jam, lalu push up dan sit up berulangkali digang antar kursi.

Ketika bis berhenti, mau turun makan, kelima lelaki itu nyanyi keras-keras refren lagu Cari Jodoh-nya Wali.

"Bapak bapak ibu ibu siapa yang pengen makan ayo turun sama saya.."

Dan diulangi 5 kali.

Sebelum bis mau berangkat dari tempat makan, kelima lelaki itu berdiri ditengah gang bagian depan dan memperagakan instruksi keselamatan seperti yang dilakukan pramugari pesawat. Disambung joget dengan gaya Michael Jackson selama 1 menit.

Saat bis mendekati kota Norwich, supir bis memutar video film Korea. Dan walaupun gak lucu karena sebenarnya pelem tangis-tangisan, mereka berlima ketawa keras-keras. Plus ditambahin komentar-komentar singkat gak perlu misalnya, "mampus loe!" atau "gebuk sekarang" atau "udah, kimpoi aja..", dan sebagainya.

--Nathan's POV--

Jam menunjukan pukul 17.00. Nathan segera menuju ke dipo Sidopoto. Setibanya di dipo dia sempat foto-foto simbah yang diparkir di pojokan dipo. Menurut, Heri, KDT Sidopoto, simbah akan dikirim ke BY Penyok subuh nanti untuk dirucat.

*bersambung*

Artikel Lainya:

No comments:

Post a Comment

Sampaikan komentar anda disini. No SARA & Rasis. Terimakasih