Apel Busuk, Part 17



"Hey, you disturb my privacy!" seru Niall dengan wajah merengut.

Zayn hanya mencibir. Lalu meraih tangan Niall untuk membantunya bangkit berdiri.

I must go" ucap Niall sambil mengelak dari Zayn.

"We should've been at airport now"

"I won't take so long time" sahut Niall sambil berlari meninggalkan Zayn.

"Hey, wait!" seru Zayn mengejar Niall.

Mendadak Niall berhenti. Dia baru ingat satu hal. Temanya yang bernama Zayn ini tidak akan menyerah begitu saja. Dia harus melakukan sesuatu untuk menjauh dari temanya itu.

"Hey!" jerit Niall tiba-tiba dengan suara nyaring.

Sontak seluruh pasang mata hadirin yang memadati aula H&E Centre tertuju kepada sosok berpaikan petugas kebersihan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Niall yang sedang menyamar.

"He is ZAYNNN! Kyaaa!" seru Niall dengan riang. Layaknya seorang fans bertemu idolanya.

"Wooahhh, ZAYN! ZAYN!"

Detik berikutnya, Zayn sudah dikerubuti penonton yang memadati H&E Centre. Sementara Niall dengan penyamaran sempurnanya sebagai petugas kebersihan sudah melenggang kangkung entah kemana. Zayn hanya pasrah, dia sudah mati langkah. Dia tidak bisa bergerak lagi karena dihadang fans.

"Yeah! Nice idea!" puji Niall kepada dirinya sendiri melihat temanya kelimpungan dibannjiri permintaan foto bareng.


--Nathan's POV--


Nathan terbego-bego karena menunggu terlalu lama. Dia merayap menuju pohon tempat penyidik Yenni membawa Bripda Edward tadi. Namun sialnya, dia mendapati tidak ada siapapun di balik pohon itu sekarang.

"Anjrit!" maki Nathan kesal.

Kemana dia, batin Nathan.

Nathan lalu bergerak menuju ruang penyidikan tempat diintegorasi tadi. Dia berharap masih bisa bertemu kakak kelasnya waktu SMP itu.


--Priscila's POV--

Rombongan tim Merah Putih kembail ke hotel tempat mereka menginap. Sedikit keriuhan karena kehadiran Zayn di H&E Centre tadi memang membuat Priscila bingung. Awalnya dia ingin bertanya alasan kenapa Zayn datang ke sana. Tapi kerumunan fans yang sangat banyak, membuatnya tidak bisa bertanya apapun. Dia hanya bisa mengira-ngira kalau Niall pasti juga berada diantara kerumunan. Dia pasti ada dibalik ini semua.

"Ok. Kita akan terbang besok kembali Indonesia, besok pagi jam 8. Penerbangan akan transit di Singapura terlebih dahulu" ucap bu Eka sebelum memimpin doa bersama sebagai wujud ucapan syukur.

"Yeee!"

Priscila tersenyum bahagia. Dia sudah tidak sabaran segera pulang ke tanah air. Di Inggris sama sekali tidak enak menurutnya. Bayangkan saja dia harus menggigil kedinginan setiap malam. Dimana biasanya dia menikmati cuaca hangat nan bersahabat di Sosrowijen.


--Niall's POV--

“Can you drive faster?”
 tanya Niall pada supirnya.

“C’mon I’m in hurry” kata Niall setengah berteriak.

Supirnya kemudian mengemudikannya lebih cepat. Kemarin malam Niall sudah melihat Priscila di aula H&E Centre. Namun sialnya, si keparat Zayn menarik wignya, sehingga ia ketahuan. Hasilnya bisa dikira. Semua orang balik menyerbu kearahnya. Dia tidak tau apakah Priscila menyadari keberadaanya juga atau tidak. Tapi apapun itu, sekarang dia hanya ingin melihat Priscila sebelum dia kembali ke Indonesia. Karena Niall tau dia tidak akan bertemu Priscila dalam waktu dekat. Dia ingin meminta maaf dan mengembalikan ponselnya.


15 menit kemudian, akhirnya sampai juga di bandara. Tetapi saat Niall melihat jam ternyata dia sudah terlambat. Niall mengambil hadiah yang akan diberikannya pada Priscila dan dia berlari mencari Priscila.

Tapi terlambat. Niall terlambat. Dia sudah mencari Priscila kemana-mana dan tidak menemukannya. Niall duduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kalau saja dia datang lebih cepat. Sekarang dia harus kembali pulang. Penerbangan untuk tur ke Amerika tidak mungkin ditunda yang kedua kalinya. Niall pun berdiri dan melangkah gontai ke parkiran. Namun tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Niall. Niall menoleh dan sepertinya Niall mengenal orang ini.

“Niall, right?” tanya gadis tersebut. Niall hanya mengangguk. Niall sepertinya pernah melihat gadis ini entah dimana.


“Remember me?” tanya gadis itu. Niall hanya menatapnya dengan tatapan bingung.


“I’m Lina” kata gadis tersebut.


“Lina?” tanya Niall balik. Dia yakin pernah melihat gadis ini. Tunggu dulu, dari wajahnya yang sangat Asia, dia pasti teman Priscila. Dia pasti berasal dari Indonesia juga!

“Where’s Priscila?” tanya Niall buru-buru.


“She has just gone” kata Lina.


“Seriously?” tanya Niall. Lina mengangguk.

“But, why are you still here?” tanya Niall.


“Oh, I missed my flight” kata Lina.


“How could?” tanya Niall curiga.


“It’s a long story” sahut Lina enteng.


“Argh. Please don't lie to me” seru Niall dengan kesal.


"Well, our flight was delay for 1 hour Niall"

"Hah!" Niall terperanjat. Dia masih bisa bertemu Priscila.

“Hahaha. Do you here to meet her?” tanya Lina. Niall mengangguk tidak sabaran. Lina menepuk-nepuk bahu Niall.


“Do you love her?” tanya Lina.


“What do you think about a guy have a job in US, then he cancelled his schedule just because wanna meet a girl who has a boyfriend” kata Niall kesal sambil mengacak-acak rambutnya.


“You know the girl has a boyfriend. Why you don’t move on from her?” tanya Lina.


“It’s not easy as seen” kata Niall murung.


“Are you regret for loving her?” tanya Lina.


“Of course not. Are you a paps?” maki Niall mulai kesal karena Lina terus bertanya-tanya pada Niall seperti wartawan tabloid gossip.


“Calm down” kata Lina tenang.


"She is behind you.." sambung Lina pelan.


Niall terperanjat. Dia berbalik dan jantungnya berdetak lebih cepat.

"Priscila!" seru Niall girang.

"Eh?" Priscila menoleh. Ia kaget melihat siapa yang berdiri di hadapanya.

“This is for you” kata Niall memberikan Priscila sebuah teddy bear berwarna putih yang sangat besar. Prriscila menerima boneka tersebut dengan ragu.

“For what? Why you are here?” cecar Priscila dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Niall mengalihkan pandangannya. Perasaan canggung dan bersalah mendadak menyelimuti hatinya. Hening. Entah mengapa Niall menjadi kehabisan kata-kata.

“Do you have an event in US?” tanya Priscila. Niall hanya mengangguk kikuk.


“Niall” panggil Priscila. Niall hanya memandangnya lekat-lekat memandang kedua mata coklatnya. Mata itulah yang membuatnya luluh.


"I have boyfriend.."

"I can't take this"

Priscila mengembalikan boneka pemberian Niall dengan perlahan.

"Please forgive me. It wasn't my fault"

Priscila tertunduk. Ia tau ini memang bukan salahnya Niall. Dia hanya menemukan ponselnya di taman. Lalu, katakanlah, mengamankanya agar tidak diambil orang. Hanya itu. Ini semua hanya kesalahpahaman.

"Take yours" ucap Niall seraya menyodorkan ponsel Priscila.

“Thanks. Thank you Niall” kata Priscila. Terlihat matanya berkaca-kaca.


“Are you crying?” tanya Niall khawatir.


“I’m so happy Niall. Thank you” kata Priscila.


Priscila memandang Niall. Niall tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Ia segera memeluk Priscila erat seakan tidak mau Priscila pergi kembali ke Indonesia. Niall merasakan bajunya basah. Basah karena air mata Priscila. Bahkan tanpa sadar dirinya juga ikut mengeluarkan air mata.

“Good bye Nathaniall Conan” bisik Priscila sambil melepaskan pelukannya.


“Don’t say goodbye. Someday, we’ll meet again” kata Niall. Priscila hanya tersenyum.


“See ya Niall” kata Priscila. Niall hanya melambaikan tangannya dan memandang punggung Priscila yang semakin lama semakin menghilang ditelan kerumunan penumpang.


“When will I see you again dear?” ucap Niall lirih dan berjalan keluar meninggalkan bandara.


--Priscila's POV--


Priscila memandang jendela dengan tatapan kosong. Bahkan dirinya sendiri pun tak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Priscila melihat ke arah teman-temanya. Semuanya sudah tertidur pulas.


Sebenarnya Priscila bingung dengan perasaanya sendiri terhadap Niall. Jika Priscila hanya sekedar mengidolakannya mengapa begitu berat untuk meninggalkannya. Dia sudah punya Nathan. Pemuda itu kini adalah pacarnya. Priscila menutup kedua matanya mencoba untuk menenangkan dirinya.

“Niall why you do that to me?!” teriak Priscila sambil menangis. Niall hanya diam dan menunduk terlihat dari wajahnya dia merasa sangat bersalah.


Ia melihat sebilah pisau tertancap di dada Nathan yang bersimbah darah. Dan disebelahnya tergolek seorang gadis yang sepertinya dia kenal. Tapi dia tidak tau siapa.

“I’m disappointed” kata Priscila yang sudah bisa mengatur emosinya. Niall hendak memeluk Priscila tetapi Priscila menghindar. Mata Niall melebar, ia tampaknya sangat kaget.


“Don’t!!” ucap Priscila terengah-engah.


“Ever meet me again” bentak Priscila dan meninggalkan Niall.



PUOONGGSS..


"Watch outt!!!" teriak Niall.

Priscila mendadak terlempar jauh. Ia bisa merasakan sekujur tubuhnya didorong dengan begitu kerasnya.



BRAKKK


Priscila menoleh kebelakang. Tubuh Niall terpental dihantam lokomotif yang bergerak dengan cepat.


“Pris. Priscila bangun” sayup-sayup suara terdengar.


Priscila membuka matanya. Dia kaget sekali saat melihat bu Eka. Bu Eka menatapnya bingung.

“Kamu kenapa?” tanya bu Eka khawatir.


Priscila hanya diam. Bu Eka menyodorkan air mineral pada Priscila agar ia lebih tenang.

“Gue mimpi buruk” kata Priscila kepada Lina usai meminum air mineral.


“Mimpi apa?” tanya Lina.


Priscila memandang bu Eka. Guru itu sudah bergerak meninggalkanya.

“Pokoknya di mimpi gue ada banyak darah.. dan.." Priscila terdiam.


"Dan apa?' tanya Lina pelan.

"Kesedihan.." sambung Priscila terisak.

“Mimpi cuman bunga tidur Pris” kata Lina coba menenangkan temanya.


Priscila mengangguk pelan. Dia tahu itu. Dia meminum kembali air mineral tersebut. Berharap semuanya benar-benar hanya mimpi.

*bersambung*

Artikel Lainya:

No comments:

Post a Comment

Sampaikan komentar anda disini. No SARA & Rasis. Terimakasih