Apel Busuk, Part 16


Nathan bergegas kembali ke ruang penyidikan. Namun sialnya, pintu ruangan yang terbuat dari kayu sudah tertutup rapat.

Tok, tok, tok

"Buka pak.." seru Nathan sambil mengetuk pintu dengan tidak sabaran.

Krekk

Pintu terbuka. Lelaki berpangkat Bripda yang bernama Edward itu menampakan dirinya.

"Kenapa?" tanyanya.

"Pak Edward dulu apa pernah bersekolah di SMPN 1 Wijen?"

"Memang kenapa?" sahut Bripda Edward balik bertanya.

"Karena bapak mirip teman saya waktu SMP dulu. Lebih tepatnya kakak kelas" terang Nathan bersemangat.

Bripda Edward tidak menjawab. Menyisakan kerbingungan di kepala Nathan. Jika dugaanya benar si Edward ini adalah mantan pacarnya Priscila yang menghilang itu, pastilah sekarang umurnya sudah 23 tahun.

"Ada apa ini?" tanya penyidik perempuan yang muncul tiba-tiba dari ruanganya.

Bripda Edward menggeleng, sementara mata Nathan menatap tajam kearah sang Bripda menanti jawaban.


--Priscila's POV--

Priscila termenung di antara kursi penonton. Di benaknya masih saja berdengung kata-kata Nathan yang menggunakan "lu-gue" kepadanya. Sementara itu diatas panggung teman-temanya dari cabang Kebumian tengah beradu argumen dengan tim lawan dari Albania di partai puncak. Walaupun berstatus tim underdog karena Albania adalah juara bertahan, tim Merah Putih tidak pasrah begitu saja. Tidak. Mereka terus berjuang menjawab pertanyaan yang diajukan tim lawan. Juga cermat dalam melemparkan pertanyaan balik sebagai senjata counter-attack yang ampuh.

Terselip sedikit rasa bersalah dalam hati Priscila karena gagal memberikan penampilan sengotot itu ketika tim Asronomi dan Astrofisika tampil. Sekarang ia hanya bisa berharap dapat memperbaiki semuanya itu di partai pamungkas. Dan tentu saja mengamankan medali emas. Mungkin akan sulit. Tapi dia sudah sampai sejauh ini. Dan ia tidak mau perjuanganya berakhir sampai disini. Tidak. Dia tidak akan menyerah!

"Oke habis ini giliran tim kita tampil" ucap Bu Eka.

"Ya bu!' sahut Lina dan Reny berbarengan.

"Kamu gimana?" tanya Bu Eka kearah Priscila yang mematung.

"Eh, mm.. i-iya bu"

"Jangan ulangi lagi!" ingat Bu Eka. Kali ini dengan wajah gusar.

"I-iya bu" ucap Priscila terbata.

Ketiga gadis itu lalu membereskan buku-buku mereka dan bersiap naik keatas panggung. Dihadapan mereka sudah terbentang partai final cabang Astronomi dan Astrofisika yang mempertemukan tim Merah Putih dengan tim tuan rumah, Inggris.

"Kita tidak seharusnya berada disini" gumam Priscila di tangga panggung.

Lina dan Reny terhenyak mendengarnya.

"Ini semua salah gue.." sambung Priscila pelan.

"Ssstt.."

"Kita semua pernah melakukan kesalahan bukan?" ucap Reny pelan.

"Kita selesaikan ini bersama-sama" sambung Lina mantap.

Priscila tersenyum. Matanya berbinar. Ia memang bersalah karena membuat langkah tim Merah Putih tersendat. Bagaimana tidak, mereka seharusnya sudah ditahbiskan menjadi juara jika saja berhasil membungkus poin penuh di partai terakhir. Tapi kini mereka harus melakoni partai tambahan karena jumlah poin Indonesia dan Inggris sama di tebel klasemen akhir. Menyakitkan memang. Tapi ia tidak menyangka kedua temanya itu tetap berada di sisinya.

"Pris.. Ada telpon.." seru Bu Eka sesaat setelah mereka baru saja tiba diatas panggung.

Priscila menatap ragu.

"Siapa?" tanyanya.

"Nathan.."

--Niall's POV--

"Hey, wait.."

Sekelompok pria tegap berseragam mengejar seorang pemuda diantara kerumunan pasar. Namun ternyata pemuda itu dengan lincah berhasil melewati sesaknya pengunjung pasar. Semenit kemudian mereka sudah kehilangan jejak.

"What will we do?" tanya pria tegap yang paling tinggi kepada temanya.

"We lost him. We must go back" sahut temanya dengan nafas tidak beraturan.

"No! We must find him!" sergah pria tegap yang lain dengan suara keras.

"How do we meet him?"

--Nathan's POV--

"Halo.." sapa suara merdu diujung sana. Suara yang rasanya sudah seribu tahun tidak dia dengar.

"Halo"

"Kenapa Nat?"

"Emm.. nggak"

Nathan meneguk ludah. Mencoba mengumpulkan konsentrasi.

"A, aku minta maaf ya Nat.." ucap suara diujung telpon dengan pelan.

Nathan terdiam. Ia bisa menangkap nada penyesalan yang amat mendalam dari kalimat itu.

"Nat, halo.."

"Eh, i-iya. Halo"

"Kamu maafin aku?" tanya gadis imut itu penuh harap.

"Kita selesaiin disini aja" jawab Nathan pelan.

"Maksudnya?"

"Iya. Kamu selesaiin dulu pertandingan itu. Aku gak mau kamu kalah. Pokoknya urusan ini kita bicarain nanti aja"

"I-iya.." sahut Priscila terbata.

"Pris?"

"Iya?"

"Aku yakin kamu menang!" seru Nathan mantap.

Tilt.

Bersamaan dengan itu, Nathan mematikan teleponya. Kalau saja ada kamera jarak jauh, pastinya sekarang sedang terpampang seutas senyum di wajah manis Priscila.

"Hufth.."

Awalnya Nathan enggan menelpon Priscila. Mereka kan sedang marahan. Tapi akhirnya dia menyerah juga setelah diancam bang Jali, sang jawara suku Baduy yang entah bagaimana bisa ada di tim Olimpiade. Dia terpaksa mematuhinya daripada kehilangan nyawa.

"Priscila?"

"Eh?" Nathan berpaling.

"Rasanya saya kenal"

Cih! Tentu saja kamu kenal, batin Nathan. Dia itu pacarmu, eh mantan pacar lebih tepatnya.

"Siapa dia?"

"Hah!" Nathan terbelalak.

"Kau bodoh ya?" cibir Nathan.

"Dia itu kan mantan mu!"

Bripda Edward terdiam. Ia bingung apa yang sebenarnya dibicarakan pemuda kurus di hadapanya ini.


"Maaf, ada yang perlu saya bicarakan" ucap penyidik perempuan yang belakangan diketahui bernama Yenni itu tiba-tiba.


"Eh?"

Detik berikutnya tubuh kekar Bripda Edward sudah ditarik Yenni kebelakang pohon. Nathan penasaran apa yang mereka bicarakan.

--Priscila's POV--

Prok, prok, prok

"Indonesia! Indonesia!"

"Congratulation to Indonesia's Astronomy and Astrophysics team!"

Prok, prok, prok

Seisi gedung aula bergerumuh dengan hebatnya. Pengumuman hasil akhir Olimpiade Sains menjadi penyebabnya. Masing-masing anggota tim bersorak kegirangan menyambut hasil yang diraih tim mereka masing-masing. Termasuk tim Merah Putih. Sang saka Merah Putih untuk yang ketiga kalinya berkibar di aula H&E Centre di kota London. Tim Indonesia sukses membawa pulang tiga medali emas sumbangan cabang Kimia, Astronomi dan Astrofisika, serta Linguistik dari negeri Ratu Elizabeth.


"Selamat, selamat"

"Congrats kakak.."

Satu-persatu ucapan selamat berdatangan kepada enam orang anggota tim yang mendadak jadi pahlawan. Priscila juga turut larut dalam kegembiraan momen bersejarah seperti ini. Dia tidak tau harus berkata apa. Tapi yang jelas telpon singkat dari Nathan menjadi pemicu bangkitnya moral bertanding. Dia ingin mempersembahkan kemenangan menakjubkan ini kepadanya. Dia sudah tidak sabar bertemu Nathan.

"Indonesia raya! Indonesia! Indonesia!"

"Hore! Hore!"

--Niall's POV--

Niall tergopoh memasuki aula H&E Centre. Beruntung tadi ia bisa melewati penjagaan di pintu masuk dengan penyamaranya sebagai petugas kebersihan. Yang terpenting lagi ia berhasil mengecoh tim bodyguard yang mengawalnya.

"Indonesia! Indonesia!"

Aha, pasti disana.

"Now, it's the time!" seru pemuda Irlandia girang.

Ia segera menjelajahi aula untuk menuju sumber suara khas orang Indonesia itu berasal. Sekaligus mencari orang yang menjadi alasanya kabur dari bandara. Ia ingin mengembalikan benda kepunyaanya.

BRAKK!!!

Niall terpelanting ke lantai. Ia berharap yang ditabraknya adalah gadis yang ingin ditemuinya. Namun sialnya, itu adalah tiang aula.

"Shhitt!" desis Niall geram.

"INDONESIA! INDONESIA!"

Niall segera bangkit berdiri. Namun ia tidak bisa. Kepalanya terasa sakit sekali. Ia memegang jidatnya yang benjol lumayan besar.

"Arrgghh" erangnya kesakitan.

Namun sialnya tidak ada yang peduli keberadaanya satupun. Mungkin penyamaranya sebagai petugas kebersihan terlalu sempurna. Atau mengkin juga suasana haru-biru di ruangan ini yang membuatnya terabaikan. Ah, apapun itu, sekarang pandanganya mulai berkunang-kunang. Niall merangkak ke dinding aula. Ia meringkuk disana menahan rasa sakit yang teramat dalam.

""Well, loving someone need to sacrifice" ucap seseorang tiba-tiba.

Niall menoleh kebelakang. Nampak temanya, Zayn, berdiri di hadapanya dengan senyum mengejek.

"Shhitt. Why you were here?"

"Hahaha. Your GPS moron!" sahut Zayn terkekeh.

Niall terkejut. Dia baru ingat di kartu member miliknya tertanam chip. Kemanapun kartu itu berada akan bisa terdeteksi GPS.

*bersambung*

Artikel Lainya:

No comments:

Post a Comment

Sampaikan komentar anda disini. No SARA & Rasis. Terimakasih