Pagar Pembatas Dibangun Di Sisi Jalur 3 Tanahabang. Masalah Baru-kah?

Stasiun Tanahabang
Stasiun Tenjo - Hari ini Stasiun Tenjo mau ngeshare situasi terkini dari stasiun Tanahabang.
Pagi tadi sejumlah penumpang KRL CL mengeluhkan dibangunya tiang-tiang di sepanjang sisi jalur 3.
Sebenarnya, tujuan PT.KAI itu mulia. Karena dengan dibangunya tiang-tiang tersebut, akan mencegah penumpang yang ingin berpindah  peron dengan cara menyebrangi rel. Mengenai larangan memasuki area rel sudah ada payung hukumnya. Lalu kenapa diprotes?
Alasanya sebenarnya simpel saja.
"Jembatan penyeberangan cuma ada satu"
Padahal, stasiun Tanahabang merupakan stasiun transit. Dan sebagai stasiun transit, pasti banyak penumpang yang berpindah rangkaian. Rangkaian KA tersebut tentu tidak masuk bergantian di satu jalur secara berturut-turut saja. Rangkaian tersebut akan masuk di jalur yang berbeda dan untuk menuju jalur tersebut harus menyeberangi rel.


Kepadatan sesaat setelah KA Langsam tiba
Nah, cara teraman menyeberangi rel, tentu saja dengan menggunakan JPO alias Jembatan Penyeberangan Orang. Tapi masalahnya pembaca, stasiun Tanahabang cuma punya satu JPO.
Lah, trus maunya berapa?
Gak, gak perlu banyak-banyak. Satu JPO cukup, asal  lebarnya seluas lapangan bola. Tapi kenyataannya? 
JPO cuma satu, sempit pula.
Situasi ini diperparah dengan penumpang yang jumlahnya ratusan.
Yah, kalo misalnya ada rekor JPO dengan pengguna terbanyak di dunia. JPO di stasiun Tanahabang ini pasti menang. 

JPO di kota Jakarta
Dengan situasi yang memaksa kita saling berdesakn, tentu saja ada beberapa orang yang memanfaatkanya untuk melakukan tindakan asusila seperti yang sering kita dengar.
Apalagi kalo berdesakan dalam waktu lama. Bisa-bisa kejadian di KRL Serpong yang rok wanita basah karena (maaf) sperma bisa terulang lagi.

Ini masih biasa
Lalu kalo udah ngeliat kereta yang akan dinaiki datang di jalur seberang, tapi JPO disesaki ratusan orang kayak gambar diatas, gimana?
Gua harus bilang wow gitu?
Ya, tentu nyebrangin rel donk.
Emang mau nungguin jadwal berikutnya. Syukur-syukur kalo keretanya tepat waktu. Lah, kalo ngaret?
Jadi sebenarnya, itulah alasan kenapa para penumpang memaksakan diri untuk melintasi rel.
Kan, kita gak tau kalo mereka ternyata lagi ngejar tender miliaran rupiah di Sudirman, atau di seberang peron dia ngeliat  ayahnya yang udah dicari-cari selama ini?
Kalo udah gini salah siapa?
Waktu itu uang.
Oke, kita bisa ambil jalan keluar.
Gak usah pake acara demo di depan kantor Dephub atau ngebakar tu pagar.
Masih banyak solusinya, seperti:

Pasang Eskalator atau Lift
Tapi sebenarnya ini sama aja. Karena seperti di stasiun layang di petak JAKK-GMR-MRI, semua eskalator mati. Horeee.....
Contohnya di stasiun Juanda.

Eskalator stasiun Juanda
 Padahal RAB perbaikan eskalator di Sta. Juanda dari lt.2 ke lt.3 
(cari dengan kata kunci "biaya perbaikan eskalator) di tahun 2010 itu hanya sekitar Rp. 5.8 jt. 
Jadi mustinya dengan anggaran 300 - 500 jt, perbaikan semua eskalator yg rusak di seluruh 
stasiun Jabotabek bisa dilakukan. Masa sih PT. KAI tidak punya anggaran 500 jt...buktinya 
waktu Olimpiade tahun lalu bisa ngasih penghargaan kepada atlet Indonesia sebesar 500 
jt. Tinggal ada niat atau tidak.

Tapi ada contoh bagus juga sih, seperti yang di stasiun Sudirman.

Eskalator stasiun Sudirman
Sebenarnya, walau pembangunan eskalator makan waktu. Tapi lebih itu baik daripada tidak sama sekali.

Jembatan Penyeberangan Bawah Tanah
Contoh, di stasiun Pasarsenen.

Eh, salah bukan ini

Bilang hai sama pak PKD
Sama seperti eskalator, pembangunan seperti ini pasti makan waktu dan biaya. Tapi namanya pembangunan. Pasti menghabiskan dana yang tidak sedikit!

Jalan Melintas Rel
Atau mungkin pada senang banget nginjak rel?
Bikin aja kayak di stasiun Manggarai.
Ada petugasnya. Aman kan?

Jalan melintas rel stasiun Manggarai
-----------------------------------------------------------
Jadi semuanya itu kembali kepada kita.
Sementara ini bersabarlah dan berdoa.

Kesabaran kita pasti berbuah hasil.
Kita lihat saja, apa yang akan dilakukan PT.KAI.

Kenangan terakhir Patas Merak
Penulis: Imanuel Sihite

Artikel Lainya: