Apel Busuk, Part 24





--Nathan's POV--

"Selagi kami memeriksa data ante-mortem, saudara bisa kembali lagi nanti" ucap pak Kasat Intel mempersilahkan Nathan pulang.

"Mmm.. Lihat-lihat dulu boleh gak pak?" pinta Nathan.

"Ini ruangan terlarang! Bukan tempat wisata, ngerti?"

"Sekarang saudara boleh keluar!" bentak pak Kasat emosi.

"Sabar-sabar pak, barangkali memang dia bisa membantu.." bujuk penyidik Yenni coba menenangkan suasana.

"Iya pak, tidak ada salahnya kan? Toh, ada kami yang menemani" dukung Bripda Edward.

"Ya sudahlah!' gerutu pak Kasat sambil ngeloyor pergi.

"Nah, sekarang apa yang ingin kau lihat?" tanya penyidik Yenni begitu pak Kasat meninggalkan gudang.

Nathan tidak menjawab. Ia sudah sibuk mengamati tiap sudut rongsokan truk malang dihadapanya.

"Itu!"

"Itu apa?" tanya Nathan menunjuk sebuah tas hitam yang teronggok diujung bak truk.

"Tas korban" sahut penyidik Yenni.

"Milik korban?"

Nathan beringsut menuju tas itu. Apa benar tas tersebut milik Natasha?

"Ternyata benar" gumam Nathan setelah mengamati beberapa saat tas yang sudah dibelepoti jeragah debu dihadapanya.

"Benar apanya?"

"Ini punya Natasha"

"Ya, kan tadi gue ngomong gitu kecebong rebus" sewot penyidik Yenni kesal.

"Wkwkwk.." Nathan terkekeh mendengarnya.

"Dagumu kenapa?" tanya Bripda Edward tiba-tiba. Ia sepertinya baru tersadar akan luka mengerikan akibat versi KW-an dirinya.

"Apa isinya?' tanya Nathan mengalihkan pembicaraan. Matanya menggerayangi tas itu tanpa tanganya menyentuh sedikitpun.

"Buku catatan sekolah dan alat tulis.."

"Perlengkapan anak sekolahan umumnya"

Nathan manggut-manggut. Ia paham betul sikap Natasha yang rajin itu. Pasti pada saat kejadian, tasnya disesaki buku-buku pelajaran.
"Kami juga menemukan ini" sebut penyidik Yenni seraya menunjuk kearah kabinet.

"Apa?"

"Lembaran buku diary-nya"

Nathan termenung beberapa saat. Bripda Edward yang sedari tadi diam, nampak mendekati kabinet dan mengambil selembar kertas kusam dari sana dengan sangat berhati-hati. Penyidik Yenni mengawasinya dengan seksama. Kalau-kalu ada barang bukti yang disimpan dalam kabinet ikut terambil.

"Kira-kira apa ya isinya?"

"Surat cinta?" cibir Bripda Edward. Nathan mendengus kesal mendengarnya.

"Kosong!?" seru Bripda Edward.

"Hah!"

Nathan merebut lembaran dari tangan Bripda Edward. Ternyata benar. Lembarn itu hanyalah lembarn kosong yang tidak terisi.

"Apa mungkin ini kode rahasia?"

"Dying message?"

Nathan buru-buru menyorotkan lampu ultraviolet ke arah kertas itu. Tapi, hasilnya nihil. Tidak ada apapun disana.

"Hahaha"

Penyidik Yenni tertawa geli. "Kalian salah ambil.."

"Cih!" mata Bripda Edward mendelik kesal.

"Ini"

Nathan segera merampas buku IPA yang disodorkan penyidik Yenni. Ia berharap menemukan tulisan tangan Natasha disana. Tapi dari tiap lembar yang dibuka, tidak ada satupun yang dicoreti Priscila. Berbeda sekali dengan Nathan yang hobi mencoret-coreti buku paketnya.

"Hufth.."

Nathan memeluk erat buku IPA tersebut, seolah memeluk Natasha. Mungkin hanya inilah satu-satunya bagian yang tersisa dari Natasha. Sebuah buku. Hanya sebuah buku.

Srekk..

Selembar kertas tiba-tiba terjatuh dari antara halaman buku. Nathan memungutnya dengan ragu.

"Hah!" Nathan terperanjat.

"Ini kan tulisan tangan Natasha!" serunya riang.


Aku tidak berkawan sedih
Bersahabatkan melodi lirih


Aku hanya ingin sendiri saja
Tersenyum dihadapanmu
Meski dalam lautan tangis di dalam kalbu
Izinkanku menjauh
Dikala hatiku sedang peluh
Aku tidak ingin mengeluh


Menjadi lemah dipikiranmu

Maka ku kuatkan diri ini
Bertahan hidup tanpa kau tau


Memang sakit
Saat kubutuh seseorang tuk menggenggamku
Aku hanya berdiam sepi
Menahan sakitnya hati ini
Hingga aku tak tau harus bagaimana lagi


Tapi aku hanya percaya
Akan ada terang disebrang sana
Aku hanya tinggal melangkah
Berjalan dan meraihnya


Dan setelah itu
Aku akan menemuimu dengan bangga
Bahwa tuhanku itu hebat
Dia masih menjadi penerang
Dikala aku masih senang dalam sang gelap


Nanti....
Akan kuceritakan padamu kesakitanku ini
Bukan untuk mengeluh lagi
Namun berpayungkan syukur


Aku membaginya
Dan ku katakan padamu
Aku memang senang dengan gelap
Karna dengan itu aku merenung
Bukan bermurung


--Bripda Edward's POV--
Bripda Edward tercenung melihat tulisan tangan Natasha. Dia merasa ada sesuatu yang aneh didanya. Dia kepalanya masih mengawan kata-kata yang dilontarkan pemuda bernama Nathan itu mengenai Priscila. Siapa sebenarnya Priscila dan kenapa ia seperti mengenal Natasha. Apa yang terjadi sebenarnya.

"Lalu apa hubunganya dengan tulisan itu"

"Tidak ada" sahut Nathan.

Penyidik Yenni menghela nafas panjang. Ia seperti sudah tau jawaban Nathan ini. Bripda Edward menggosok-gosokkan tanganya ke celana yang dikenakan. Suasana di gudang penyimpanan barang bukti ini memang tidak pernah berubah. Selalu sama. Suasana angker yang menyelimuti berbagai macam alat pembunuhan selalu berhasil membuat sedikit ciut nyali.

"Lalu bagaimana sekarang?"

"Ayo pulang saja"

"Ya sudah. Ayo keluar!" seru Bripda Edward menyambut ajakan Nathan dengan riang gembira. Pemuda kurus kerempeng itu ketakutan juga rupanya.

--Nathan's POV--

Srekk,

Hartono menyalakan rokoknya. Menghisap dan menghembuskan asap rokok dalam-dalam. Nathan terbatuk menghirupnya.

"Lu tau gak kalo ngerokok 1 batang abis makan itu sama aja ngerokok 10 batang?"

"Tau.." sahut Hartono.

"Tau apa? Kalo tau kenapa lu masih.."

"Maksudnya gue tau lu bakal ngomong gitu" potong Hartono enteng. Nathan mendengus kesal mendengarnya.

"Eh, dagu lu udah sembuh?"

"Lumayan lah" sahut Nathan.

"Parah emang itu anak sampe geser gitu rahang lu.."

Nathan hanya tersenyum kecut. Hartono memang sudah tau pelaku biadab dari luka mengerikan ini. Bahkan ia menawarkan jasa santet untuk membunuh si Edo KW-an itu. Tapi sebagai anak alim yang rajin ke gereja, tentu Nathan menolaknya.

"Eh, baidewai.."

"Lu gak ke Wijen?"

Nathan mengangkat bahunya. Dia tidak punya rencana pulang ke Wijen. Dia masih kelelahan karena baru pulang dari kantor Mabes Polisi.

"Lohh kenapa? Besok kan LD?" tanya Hartono heran.

"Capekk coy" sahut Nathan enteng.

"Trus cewek lu?"

"Gue lagi berantem.."

"Kenapa?"

"Ya gitu lahh" sahut Nathan malas.

"Gitu gimana?"

Nathan enggan menyahut. Tanganya mengibas-ngibas asap rokok yang berterbangan disekitarnya

Tok, tok, tokk..

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Hartono segera  beranjak membuka pintu.

"Siapa Har?" tanya Nathan tidak bergairah.

"Cewek gue"

Daun pintu berderak dibuka Hartono. Sesosok gadis berbaju ketat berdiri di ambang pintu. Nathan segera mengenalinya sebagai Ana.

"Malam mas"

"Malam mbak" sahut Nathan seraya mempersilahkan gadis itu duduk.

Hartono pergi ke dapur mess mengambil minuman. Tentu saja minuman yang ada di mess paling kuat hanya air putih. Air putihnya pun hanya air keran yang direbus. Malah kadang tidak dimasak sama sekali kalau gasnya habis.

"Ohh jadi mbak Ana pacarnya Hartono?" tanya Nathan basa-basi.

"Iya mas" jawab gadis itu tersipu.

"Eh sayang. Kamu punya temen cewek gak?" celetuk Hartono dari dalam dapur.

Ana merengut, "Kenapa mas?"

"Buat si setan, eh Nathan.. Wkwkwk" sahut Hartono terkekeh.

Nathan mendengus kesal. Tapi terpaksa senyum juga karena faktor toleransi.

"Ada sih.."

"Namanya Rani, orangnya cantik kok. Jomblo lagi"

"Hah!?" Nathan tercengo. Dia tidak menyangka si Ana serius menanggapi becandaan garing pacarnya itu.

"Rani?"

"Bagus tuh, kasih tau donk ke si Nathan alamatnya" ejek Hartono.

Ana merogoh saku celana jeans ketat yang digunakanya. Beberapa detik kemudian ia sibuk menulis dibalik LHM yang tergeletak merana diatas meja.

"Ini"

"Ehh?"

"Ini mas.."

Nathan meraih kertas itu ragu. Mukanya masih dalam posisi tercengo bego.

"Yaudah lu coba aja Nath.. Kali aja jodoh" celetuk Hartono yang keluar dari dapur sambil membawa dua gelas jus jeruk.

--Priscila's POV--

Priscila mengikuti derap langkah kaku Edward didepanya. Ia sedikit merasa kikuk jika harus berjalan beriringan dengan pemuda itu.

"Hei.." seru Edward menoleh kebelakang.

"Wh-what?" gumam Priscila bingung.

C'mon.." ajak Edward sambil menggandeng erat tangan Priscila.

Keduanya lalu berjalan beriringan menuju sebuah taman kecil. Taman itu sangat indah bermandikan sinar rembulan dan cahaya redup lampu jalan. Beberapa pasangan muda-mudi tampak tengah asyik berpacaran. Ohh, rasanya baru kemarin ia dan Nathan bertengkar disini. Ahh, sudahlah.

"Look at the stars"

Priscila menengadahkan kepalanya ke langit. Tampak bintang-bintang berkilauan memendarkan cahaya redupnya dengan penuh semangat. Ia belum pernah melihat bintang sebanyak ini sebelumnya.

"Which one is the brightest star?" tanya Edward.

"I guess them" sahut Priscila sambil menunjuk kearah tiga buah bintang yang berpendar sejajar.

"It's Orion.."

Priscila mengangguk setuju. Ia kagum pengenalan Edward akan astronomi.

"Did you know the story behind those stars?" 

Priscila menggeleng. "Aku gak percaya kisah mitologi.."

Edward mendesah panjang. Ia duduk menghampar diatas rumput sambil matanya tetap menatap ke langit.

"Kisah itu bukan untuk dipercayai Pris.."

"Trus?"

"Kita hanya perlu mengambil sisi positifnya aja.." sahut Edward tenang.

"Sisi positif?" ulang Priscila.

Edward tidak menyahut. Matanya tetap terpaku ke langit. Priscila yang penasaran, perlahan mendudukkan badanya di sebelah Edward.

"Every stars have a million lessons for us.." lirik Edward.

Priscila mengernyitkan dahinya. Dengan ragu ia menatap kedua mata Edward. Matanya terlihat kebiru-biruan.

"Jadi apa kisahnya?"

Edward menghela nafa panjang. Lalu mulai menceritakan kisah Orion, si pemburu yang gagah berani. Bagaimana ia berusaha menikahi Merope, pujaan hatinya, tapi Raja Oenopion, ayah Merope tidak setuju. Dan matanya dibutakan oleh penyihir suruhan sang raja. Hingga akhirnya ia mati di tangan dewi Artemis yang patah hati karena cintanya ditolak Orion yang tetap setia kepada Merope.

"Tragis banget ya.." respon Priscila pelan.

"Yap. A true love" pungkas Edward mengakhiri kisahnya.

--Nathan's POV--

Nathan terbego-bego untuk kesekian kalinya. Ia pun terpaksa hengkang dari mess pegawai yang sudah dikudeta Hartono dan pacarnya.

"Hufth.."

Nathan berjalan terseok menyusuri jalanan kota Sidopoto. Jarum jam tanganya masih menunjukkan angka 7. Hari belum terlalu larut, tapi ia sudah merasa ngantuk. Moodnya benar-benar kacau. Dia butuh istirahat.

"Egh, gimana kalau gue ke alamat ini aja kali ya.." gumam Nathan sambil menimang-nimang kertas alamat yang diberikan Anna.

"Tapi Priscila.." cegah sisi lain dari hati Nathan.

Nathan termenung sejenak. Pria macam apa dia sekarang ini. Pergi ke rumah cewek yang tidak dikenalnya sementara ia sedang bermasalah dengan pacarnya? Tidak, tidak. Dia bukan masuk golongan tukang selingkuh.

*bersambung*
 

Artikel Lainya:

No comments:

Post a Comment

Sampaikan komentar anda disini. No SARA & Rasis. Terimakasih